Mengenal CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage)

Mirekel – Asia merupakan kunci dekarbonasi global. Penurunan emisi wilayah Asia akan menimbulkan dampak yang signifikan secara global. Hal ini dikarenakan Asia memegang porsi emisi global yang besar. Berbagai upaya dekarbonasi dapat dilakukan. Salah satunya dengan mengubah perilaku kebutuhan energi. Selain itu, peningkatan efisiensi energi juga perlu diupayakan. Transisi energi menjadi berbasis hidrogen, bioenergi, serta angin dan tenaga surya dapat berdampak besar dalam menurunkan emisi gas rumah kaca. Tidak hanya itu, elektrifikasi juga akan mengurangi emisi karbon secara signifikan.

Namun, terdapat metode yang juga bisa diandalkan, yaitu CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage). Di tahun 2020, CCUS berhasil mengurangi emisi karbon hingga 40 MtCO2. Namun, untuk bisa memenuhi target Persetujuan Paris, angka tersebut harus ditingkatkan hingga 5.635 Mt per tahun untuk 30 tahun mendatang.

Baca Juga : Sejarah dan Perjalanan Awal ESG Dari Masa ke Masa

Memerangkap dan Menyimpan Karbon

Terdapat 5 tahapan utama dalam memerangkap dan menyimpan karbon. Langkah pertama adalah dengan mengidentifikasi sumber dari karbon dioksida. Beberapa sumber karbon mencakup sumber bergerak, seperti kendaraan bermotor, sumber titik, seperti pabrik, serta atmosfer. Perbedaan sumber akan menentukan cara selanjutnya yaitu memerangkap karbon. Karbon diperangkap dipisahkan dari gas-gas lain yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil.

Karbon dapat ditangkap dengan teknologi yang beragam. Teknologi-teknologi ini juga bervariasi dari segi harga dan kemudahan. Karbon juga dapat diperangkap dengan bantuan biomassa. Nantinya biomassa akan dibakar agar karbon dapat diekstraksi.

Sumber: unece.org

Selanjutnya, karbon dioksida akan dimurnikan dan dimampatkan. Kecanggihan teknologi memegang peranan penting dalam tahapan ini. Setelah itu, karbon akan dipindahkan ke penyimpanan melalui pipa-pipa, truk, kapal, ataupun kereta. Karbon akan disimpan secara permanen dalam akuifer, yaitu formasi geologis yang mengandung air laut di dalam batuan berpori. Selama ribuan atau jutaan tahun, CO2 akan termineralisasi menjadi batuan.

Karbon dioksida juga bisa disimpan dengan teknik Enhanced Oil Recovery (EOR) yaitu dengan menginjeksi karbon di dalam sumur bertekanan. Pada kedalaman lebih dari 700 m, CO2 akan menjadi sangat kritis dan menjadi pelarut untuk melepaskan minyak dan gas dari lapisan batuan. Metode ini banyak diterapkan oleh industri minyak karena dapat meningkatkan produksi. Maka dari itu, metode ini agak kontroversial karena berpotensi menghasilkan emisi karbon kembali.

Baca Juga : Mengenal Investasi ESG Bagi Pihak Investor

Berapa Cara Memanfaatkan Karbon

Selain itu, karbon yang sudah dikumpulkan juga bisa dipergunakan untuk berbagai keperluan. Salah satunya adalah dengan menjadikannya bahan bakar minyak. Hal ini sebenarnya bukan merupakan pemanfaatan yang baik mengingat karbon akan terlepas kembali ke atmosfer. Karbon bisa mengonversi hidrogen menjadi bahan bakar hidrokarbon sintesis ataupun menjadi polimer.

Karbon juga bisa menstimulasi pertumbuhan alga. Alga memiliki kemampuan untuk menyerap lebih banyak karbon dibandingkan dengan biomassa lainnya. Hal ini berarti karbon akan semakin banyak diserap dari atmosfer. Alga juga bisa dimanfaatkan sebagai biofuel. Selain itu, karbon juga dapat digunakan pula sebagai bahan tambahan dalam material bangunan.

Baca Juga :  Pengaruh dan Penerapan ESG Dalam Perusahaan

Indonesia dan CCUS

Secara global, penerapan CCUS meningkat kurang lebih 33% selama 2019 hingga 2020. Hal ini karena CCUS dinilai bisa menjadi solusi masalah karbon di atmosfer yang menyebabkan perubahan iklim. Selain itu, CCUS dinilai memberikan manfaat ekonomi yang beragam. Lapangan pekerjaan akan semakin meningkat dengan upaya CCUS. Selain itu, pemanfaatan karbon terlebih untuk bahan bakar guna menghasilkan listrik akan mengurangi biaya operasional listrik. CCUS juga bisa menjadi dasar pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi.

Sumber: https://ccs-coe.fttm.itb.ac.id/

Indonesia pun memiliki potensi besar dalam menerapkan CCUS. Di tahun 2017, Indonesia telah mendirikan National Center of Excellence CCS/CCUS. Selain itu, kerangka kerja pemerintah pun diperkuat dan sektor swasta diikutsertakan sehingga implementasi CCUS semakin terakselesai.

Author

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *