Sejarah dan Perjalanan Awal ESG Dari Masa ke Masa

PT Mitra Rekayasa Keberlanjutan – Penerapan Environment, Social, Governance (ESG) tentunya merupakan sebuah konsep revolusioner dalam menjalankan perusahaan dengan tujuan keberlanjutan jangka panjang. Hal ini dapat dilihat bahwa sudah banyak perusahaan yang mulai mengadopsi ESG ke dalam kegiatan operasional bisnis mereka. Namun, bagaimana awal mula konsep ESG dimulai dan bagaimana perkembangan ESG sampai saat ini? Tulisan ini akan membahas perjalanan ESG sampai dengan pengenalan konsep ESG di nusantara.

Awal Mula ESG

Konsep ESG bermula dengan meningkatnya perhatian terhadap dampak lingkungan dan sosial di era 1600-an sampai 1700-an dan diperkenalkannya SRI (Social Responsible Investing). Pada masa itu sebagai bentuk penolakan mereka yang menentang perang Vietnam yang disertai dengan gerakan hak-hak sipil. Perkembangan ESG terus tumbuh, terdapat beberapa peristiwa yang menjadi titik perkembangan konsep ESG, di antara lain:

Tahun 1962

Pada masa ini, dampak kerusakan lingkungan sedang menjadi perbincangan hangat karena penggunaan pestisida sembarangan. Rachel Carson, seorang ahli biologis kelautan, konservasionis serta penulis telah menerbitkan satu buku berjudul “The Silent Spring”. Buku itu membahas secara detail mengenai efek buruk terhadap lingkungan yang dihasilkan akibat kelalaian penggunaan pestisida,  khususnya pada ekosistem burung. Hal ini menjadi pemicu dari peningkatan kesadaran masyarakat Amerika dan dunia tentang dampak lingkungan.

Tahun 1969

Tepatnya pada tanggal 28 Januari, sebuah rig pengeboran minyak yang dioperasikan oleh pihak Union Oil mengalami kebocoran minyak. Akibat insiden pesisir hingga air laut California terselimuti minyak hitam pekat.. Hal ini tentu memicu terjadinya kerusakan lingkungan yang mengancam ekologis laut. Peristiwa tersebut nyatanya menjadi pemicu lebih besar gerakan lingkungan di Amerika Serikat.

Tahun 1973

Pada Tahun ini, krisis minyak terjadi untuk pertama kalinya karena negara produsen minyak menaikkan harga secara drastis. Akibatnya, krisis ekonomi global tak terelakkan. Hal ini memicu kemunculan kesadaran tentang opsi menggunakan sumber daya energi terbarukan yang ramah lingkungan dan jangka panjang. 

Tahun 1978 

Di daerah Bhopal, India, terjadi bencana industri yaitu kebocoran gas beracun dari pabrik pestisida yang menyebabkan kerusakan parah pada lingkungan sekitar dan menimbulkan banyak korban jiwa. Peristiwa ini menjadi pemicu terhadap perhatian masyarakat kepada tanggung jawab perusahaan dalam aspek sosial dan perlindungan hak asasi manusia.

Baca Juga : Pengaruh dan Penerapan ESG Dalam Perusahaan

Perkembangan Awal ESG Dalam PBB

Sumber Foto : Adobe Stock

Peningkatan perhatian terhadap aspek lingkungan dan sosial dari tahun ke tahun telah menarik perhatian dunia, termasuk keterlibatan PBB. Meskipun makna ESG terlahir pada tahun 2005, tetapi terdapat beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya. Berikut adalah urutan perkembangan sejarah ESG dalam PBB. 

Tahun 1987

Komisi Brundtland PBB mempublikasikan laporan berjudul “Our Common Sense” atau disebut Brundtland Report. Laporan ini dipublikasikan untuk memperkenalkan konsep pembangunan berkelanjutan serta bagaimana cara mencapainya. Diketuai oleh Perdana Menteri Norwegia, Gro Harlem Brundtland, laporan ini mengeksplorasi penyebab degradasi lingkungan dengan upaya untuk memahami relasi antara pemerataan sosial, pertumbuhan ekonomi, permasalahan pada aspek lingkungan serta pengembangan solusi untuk kebijakan yang mengintegrasikan ketiga kriteria tersebut.

Tahun 1992

Pada tanggal 3 hingga 14 Juni 1992, PBB menggelar sidang konferensi tentang lingkungan dan pembangunan yang berjudul “Earth Summit”. Konferensi ini diadakan di Rio de Janeiro, Brazil. Konferensi global ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 20 tahun kongres lingkungan pertama di Stockholm, Swedia pada tahun 1972. Dalam penyelenggaraannya, disimpulkan bahwa konsep pembangunan berkelanjutan merupakan tujuan yang dapat dicapai oleh semua pihak di seluruh dunia, terlepas dari keberadaan status mereka di tingkat lokal, nasional, regional maupun internasional. Selain itu, konferensi ini membahas bagaimana mengintegrasikan ketiga aspek (lingkungan, sosial dan ekonomi) ke dalam kegiatan operasional sehari-hari dalam mempertahankan keberlangsungan hidup manusia dan pengambilan keputusan.

Tahun 1999

Dalam pidatonya forum ekonomi dunia tanggal 31 Januari 1999, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan menantang para pemimpin dunia untuk bergabung dengan inisiasi internasional yaitu “The United Nation Global Compact.” Inisiasi tersebut bermaksud untuk  menyatukan perusahaan dengan badan PBB, International Labour Organization (ILO) atau Organisasi buruh internasional dan masyarakat sipil. Hal ini bertujuan untuk melibatkan semua pihak dalam mendukung prinsip lingkungan dan sosial secara universal untuk mewujudkan ekonomi global yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Tahun 2000

Dalam era ini merupakan lahirnya pengukuran indeks ESG yang dinamakan Dow Jones Sustainability Index. Teknik pengukuran ini memaparkan seberapa pentingnya praktik bisnis berkelanjutan untuk menghasilkan nilai investasi jangka panjang untuk portofolio investasi mereka. Indeks ini merupakan tolok ukur pertama untuk keberlanjutan skala global dan menilai kinerja saham perusahaan dalam kriteria sosial, lingkungan dan ekonomi yang terkemuka di dunia.

Tahun 2006 

Kofi Annan bersama beberapa kepala investor institusional terbesar di dunia meluncurkan prinsip investasi bertanggung jawab atau biasa disebut PRI (Principles of Responsible Investment). penyusunan prinsip ini didukung oleh sekelompok ahli yang berjumlah 70 orang dari organisasi antar masyarakat sipil, akademisi dan antar pemerintah dan pemerintah. Pada Oktober, PRI Engagement Clearinghouse didirikan dengan upaya untuk meminimalisir biaya , meningkatkan dampak pemungutan suara dan keterlibatan pemegang saham. Clearinghouse merupakan platform didesain untuk membantu perusahaan dalam mengatasi sumber daya mereka dan upaya dalam merubah perilaku bisnis dalam kebijakan perusahaan dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola. 

Tahun 2015 

Pada tahun ini, 193 negara yang tergabung dalam PBB bersepakat untuk menerapkan agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan. Kaidah dari agenda ini untuk menekankan pentingnya tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Selain itu, agenda ini juga membahas tentang pembangunan berkelanjutan untuk mencapai kemakmuran dan perdamaian bagi planet bumi dan umat manusia didalamnya. Beberapa hal yang menjadi target pada agenda adalah tindakan untuk mengatasi kemiskinan dan sanitasi, perencanaan dalam membangun ekonomi lokal yang disertai dengan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat. 

Baca Juga : Menilik Ekonomi Berkelanjutan dalam Wawasan Indonesia 2045

Perkembangan ESG Dalam ASEAN

Sumber Foto : Adobe Stock

Berbeda dengan perkembangan ESG di negara maju, konsep ESG di negara anggota ASEAN masih belum diterapkan secara merata. Negara anggota yang sudah menerapkan ESG adalah Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia dan Filipina. Berdasarkan kesepakatan negara dalam konferensi PBB di tahun 2015 yang membahas agenda 2030, Pemerintah Malaysia berkomitmen untuk dapat mencapai 17 pembangunan berkelanjutan dan telah membuat kebijakan untuk mencapai tujuan ini. Meski demikian,  Malaysia juga masih dalam tahap awal pengembangan untuk ESG sektor lingkungan dengan peningkatan yang signifikan. 

Selain Malaysia, perkembangan ESG di negara anggota ASEAN lain seperti Singapura, Thailand dan Filipina dapat dilihat dengan adanya pengembangan beberapa inisiatif untuk memaksimalkan penerapan ESG di perusahaan, seperti pembentukan dewan ESG di perusahaan dan kewajiban pelaporan ESG pada perusahaan secara terbuka. 

Baca Juga : Situasi dan Tantangan Perjalanan ESG di Indonesia

Perkembangan ESG di Indonesia

Sebagai salah satu negara ASEAN yang sudah menerapkan konsep ESG, namun pemahaman masyarakat terkait dengan ESG di Indonesia masih belum optimal. Berdasarkan survey IBCSD pada tahun 2021, indeks ESG Indonesia masih berada di peringkat 36 dari 47 dalam pasar modal dunia. Selain itu,40% perusahaan di Indonesia juga masih belum menyadari peran penting ESG. Meskipun demikian, perusahaan-perusahaan di Indonesia tengah bersiap untuk membuka akses ke kumpulan modal besar dengan upaya untuk mencapai perusahaan berkelanjutan, salah satu kesepakatannya adalah upaya untuk mengatasi degradasi lingkungan. Hal ini juga agar perusahaan tersebut mampu meningkatkan daya saing dan daya tarik ke pihak investor. 

 

 

Authors

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *