You are currently viewing PT Mitra Rekayasa Keberlanjutan Luncurkan Webinar “Potential and Challenges of New, Renewable Energy and Energy Conservation Development in Indonesia”

PT Mitra Rekayasa Keberlanjutan Luncurkan Webinar “Potential and Challenges of New, Renewable Energy and Energy Conservation Development in Indonesia”

Webinar yang bertajuk “Potential and Challenges of New, Renewable Energy and Energy Conservation Development in Indonesia” telah terselenggara dengan baik pada Jumat, 11 Juni 2021. Kegiatan ini tidak dapat terwujud tanpa dukungan dari IAP2 Indonesia, Anwar Muhammad Foundation, dan Koalisi GENERASI HIJAU. Dalam strategi pembangunan nasional, diidentifikasi kebutuhan untuk menekankan baik tantangan PRK maupun EBTKE dapat dilewati dengan memperkuat partisipasi publik dengan pendekatan green engagement ataupun green collaboration. Hal inilah yang melatarbelakangi PT. Mitra Rekayasa Keberlanjutan menginisiasi webinar guna mengupayakan pengarusutamaan dan penguatan inisiatif pembangunan rendah karbon di Indonesia yang merespons adanya perubahan iklim sesuai amanah RPJMN 2019-2024 dan juga berkesesuaian dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) khususnya poin 7 dan poin 13 di Indonesia.

Webinar ini diadakan dalam dua sesi dan dipandu oleh moderator yang juga merupakan Associate PT Mitra Rekayasa Keberlanjutan, Olly Norojono. Sebelum masuk pada sesi diskusi, acara ini dibuka oleh Dr. Ir. Yahya Rachmana Hidayat, M.Sc selaku tamu undangan dari kalangan pemerintah. Beliau adalah Direktur Sumber Daya Energi, Mineral, dan Pertambangan. Dalam pembukaannya beliau menyampaikan bahwa kolaborasi dan pelibatan multi-stakeholder dari berbagai lini merupakan hal yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan potensi pengelolaan energi terbarukan dan konservasi energi di Indonesia.

Arah diskusi dalam webinar ini adalah membahas arah tafsiran RPJMN 2020-2024 dalam sektor EBTKE (Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi), kecenderungan EBTKE dalam kancah Internasional dan Asia Pasifik, sikap pemerintah dalam mengelola EBTKE, dan dukungan sektor perbankan maupun swasta dalam mengembangkan EBTKE di Indonesia.

Menjawab pernyataan-pernyataan di atas, sesi pertama diskusi dihadiri oleh tiga pembicara, yakni Florian Kitt (Energy Specialist Coordinator Indonesia Energy Program, Asian Development Bank, Asian Development Bank), Prof. Deendarlianto (Kepala Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada), dan Aldi Muhammad Alizar (Chair IAP2 Indonesia). Dalam presentasinya Florian Kitt menuturkan bahwa potensi energi di Indonesia dapat berkembang seiring dengan upaya pengembangan ekonomi hijau dan kinerja pemerintah Indonesia. Dalam sudut pandang akademisi, Prof. Deendarlianto menyampaikan dalam diskusi bahwa pemerintah dapat melakukan penguatan  di sisi kebijakan secara tegas untuk mempercepat laju pembangunan energi terbarukan di Indonesia. Pembicara selanjutnya, Aldi Muhammad Alizar menandaskan green engagement  pada praktik-praktik pembangunan EBKTE di Indonesia. Sejalan dengan Dr. Ir. Yahya Rachmana Hidayat, Aldi menekankan pentingnya kolaborasi dalam mewujudkan cita Indonesia dalam mencapai pembangunan enerdi terbarukan di Indonesia.                

Tidak kalah hebat, sesi kedua webinar ini mendatangkan tiga pembicara yang luar biasa, yaitu Surya Darma selaku ketua umum METI (Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia), Soesilo L. Noegroho  (Operational Director of JGC Corporation Indonesia). Nick Nurrohman memberikan rekomendasi untuk merumuskan kerangka peraturan yang jelas untuk mendukung produksi dalam negeri dan mendorog publik serta swasta untuk mengadopsi energi terbarukan untuk mencapai ekonomi rendah karbon di Indonesia. Mewakili JGC, Soesilo L. Nugroho mengungkapkan bahwa JGC akan berupaya untuk berkontribusi pada proyek CCS/CCUS di Indonesia dengan teknologi yang dapat meminimalisasi karbondioksida dalam rangka mendukung Indonesia yang lebih hijau dapat dicapai. Menutup diskusi, Ketua METI, Dr. Surya Darma menyarankan untuk melakukan (1) penyempurnaan regulasi terkait energi terbarukan yang sedang dalam proses, khususnya RUU EBT dan an Peraturan Presiden tentang Harga EBT; (2) Perencanaan ketenagalistrikan (RUPTL), pelibatan dan pengoperasian yang mengutamakan EBT; (3) Penyediaan dana untuk pengembangan energi terbarukan dengan suku bunga rendah; (4) Pemberian insentif fiskal bagi pengembang dan kompensasi pengadaan energi terbarukan; (5) Pengadaan skala besar untuk Energi Terbarukan dan Pengembangan teknologi energi terbarukan. Acara webinar ditutup oleh Hananto Basuki selaku Komisaris Utama PT Mitra Rekayasa Keberlanjutan.

Leave a Reply