Diskon Batu Bara Rusia: Bagaimana dengan Indonesia?

Mirekel.id – Berusaha keluar dari kesulitan akan berkurangnya permintaan batu bara, Rusia menetapkan diskon pada harga batu bara produksinya hingga 30%. Hal ini menjadikan beberapa negara membeli batu bara produksi Rusia dalam jumlah besar. Pelarangan impor terhadap batu bara Rusia diakibatkan oleh invasi Rusia terhadap Ukraina. Pelarangan ini merupakan bentuk sanksi, terutama oleh negara-negara Barat, kepada Rusia. Larangan pembelian batu bara dari Rusia akibat konfliknya dengan Ukraina menjadikan Indonesia menjadi alternatif baru bagi beberapa negara konsumen batu bara. Hal ini mengingat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil batu bara terbesar di dunia.

Baca Juga : Aplikasi MyPertamina Mendorong Bahan Bakar Ramah Lingkungan? 

Imbas Harga Batu Bara Rusia Terhadap Indonesia

Oleh karena batu bara Rusia mengalami penurunan harga, harga batu bara global pun terkena imbasnya. Selain karena diskon batu bara Rusia, penurunan harga batu bara juga disebabkan oleh semakin meningkatnya produksi batu bara India yang sedang mengalami krisis listrik. Sebagian besar produksi batu bara Indonesia diperuntukkan keperluan ekspor. Maka, harga batu bara global akan mempengaruhi jual beli batu bara produksi Indonesia.

Baca Juga : Jokowi Kembali Wajibkan Penggunaan Masker Di luar Ruangan 

Di Indonesia, akibat terjadi penurunan harga batu bara global, harga batu bara acuan (HBA) pun mengalami penurunan. HBA Juli turun sebesar USD 4,91 per ton batu bara dibandingkan dengan pada bulan Juni menjadi USD 319 per ton. Penurunan yang terjadi tidak terlalu signifikan. Namun, apabila dibandingkan dengan dinamika harga batu bara dalam beberapa bulan terakhir yang cenderung naik, penurunan ini menjadi sesuatu yang tidak biasa.

Sumber: www.pexels.com

Menuju Batu Bara yang Ketinggalan Zaman

Sebagian besar sumber listrik di Indonesia masih menggunakan batu bara. Batu bara masih menjadi opsi utama sumber listrik dikarenakan harganya yang terjangkau. Hal ini karena Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki lokasi pertambangan batu bara yang sangat potensial. Namun, naik atau turunnya harga batu bara global ataupun dalam negeri tidak seharusnya menjadikan konsumsi batu bara meningkat.

Baca Juga : Siap Mengawal Integrasi Isu Iklim dalam Parlemen

Jika ditinjau lebih dalam, produksi listrik berbasis batu bara semakin tidak efisien dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini dikarenakan beberapa pembangkit listrik tenaga uap di Indonesia sudah berusia tua. Mesin dan kinerjanya pun tidak dapat berperforma maksimal lagi. Tidak hanya itu, batu bara yang dihasilkan Indonesia memiliki kualitas rendah ke sedang sehingga daya termalnya tidak optimal.

Seiring berjalannya waktu, semakin tinggi kesadaran masyarakat untuk bisa beralih menuju sumber energi yang lebih bersih. Biaya untuk menyelenggarakan pembangkit listrik tenaga energi terbarukan semakin murah. Bahkan, saat ini, permintaan batu bara Indonesia mengalami penurunan karena adanya peningkatan standar emisi dari negara yang bersangkutan. Ke depannya, diprediksikan bahwa permintaan batu bara akan semakin kecil.

Sumber: www.pexels.com

Sudah saatnya Indonesia semakin mengakselerasi proses transisi energi terutama dalam aspek kelistrikan. Batu bara tidak bisa lagi menjadi pilihan utama dalam memasok listrik. Penggunaan sumber energi terbarukan harus menjadi opsi unggulan dalam menyediakan listrik bagi masyarakat. Indonesia harus pandai-pandai dalam menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk bisa melakukan transisi energi secara segera. Dengan demikian, flukt#uasi harga batu bara ataupun energi fosil lainnya tidak menjadi masalah bagi Indonesia. Sembari itu, Indonesia juga andil dalam mengurangi emisi yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *