Hari Air Sedunia: Apa Kabar Pembangkit Listrik Tenaga Air?

Indonesia terus mengupayakan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) sebagai sumber energi. Hal ini didasari oleh target penurunan emisi hingga 29% dari emisi yang dihasilkan dengan business as usual di tahun 2030. Tenaga surya, panas bumi, dan angin banyak disebut-sebut menjadi sumber energi yang akan menggantikan energi fosil.

Sebelum berbagai sumber EBT menjadi topik yang banyak dibahas, tenaga air menjadi sumber energi alternatif yang banyak diaplikasikan. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dulu menjadi primadona penerapan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Kini, tenaga air tidak lagi menjadi topik pembahasan utama dalam lama berita ataupun laporan tentang energi alternatif.

Baca Juga : Rusia Perang, Indonesia Berpotensi Merajai Perdagangan Nikel 

PLTA Menawarkan Berbagai Kelebihan

Penggunaan PLTA sebagai sumber energi listrik mendatangkan beragam keuntungan. Dari aspek lingkungan, PLTA menghasilkan emisi gas rumah kaca jauh lebih kecil dari pembangkit listrik tenaga energi fosil. Hal ini karena sumber energi dari PLTA adalah energi kinetik air yang akan menggerakkan turbin. Turbin akan menghidupkan generator yang akan menghasilkan daya listrik.

Dari segi operasional, daya tahan PLTA lebih lama. PLTA dapat bertahan hingga 100 tahun. Pemanfaatan PLTA secara optimal hingga waktu yang lama akan dapat terwujud jika pemeliharaan yang dilakukan juga tepat.

Keuntungan sampingan PLTA juga tidak sedikit. Lokasi PLTA dapat menjadi destinasi wisata air. Hal ini karena sumber air PLTA biasanya berupa air terjun ataupun waduk. Masyarakat dapat berwisata sekaligus mengedukasi diri di lokasi PLTA. Masyarakat sekitar PLTA pun mendapatkan keuntungan dari segi ekonomi. Hal ini karena tempat wisata dapat membuka lapangan pekerjaan baru.

Baca Juga : Transformasi Digital Pasca Pandemi: Area 3T Perlu Perhatian 

PLTA juga merupakan bentuk upaya konservasi air. Selain untuk PLTA, air dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain. Air dapat digunakan untuk mengirigasi lahan. PLTA dengan bendungan juga dapat menjadi cadangan air bagi masyarakat saat musim kemarau.

Di sisi lain, PLTA memiliki beberapa kekurangan. Investasi awal PLTA cukup besar. Dalam membangun PLTA juga dibutuhkan lahan yang luas. Keberadaan bendungan PLTA memang menawarkan berbagai keuntungan, namun bendungan dapat mengganggu ekosistem badan air di lokasi PLTA. Kekurangan-kekurangan ini harus dapat diatasi dengan penanganan yang tepat agar kerugian masyarakat ataupun lingkungan dapat ditoleransi.

Sumber: posoenergy.com

Pemerintah Masih Menaruh Perhatian pada PLTA

Meskipun tidak banyak menjadi pembicaraan, PLTA masih berusaha dibangun di beberapa tempat. Baru-baru ini, PLTA Poso Energy di Poso dan PLTA Malea Energy di Tana Toraja diresmikan. Hal ini menunjukkan bahwa PLTA masih menjadi opsi dalam memasifkan penggunaan energi alternatif di Indonesia. Perlu diingat bahwa Indonesia memiliki sumber daya air yang begitu besar.

Baca Juga : Partisipasi Publik Dalam Perhelatan MotoGP Mandalika 2022 

Potensi pengembangan PLTA serta Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro di Indonesia mencapai 95 GW. Potensi boleh saja besar, namun usaha yang perlu dilakukan juga besar. Ketersediaan sumber daya manusia yang mumpuni serta teknologi harus dipersiapkan. Dengan begitu, sumber daya air yang melimpah di Indonesia bisa dimanfaatkan secara optimal sehingga emisi gas rumah kaca nasional bisa berkurang.

Sumber:

 

Author

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *