Earth Hour: Mengurangi Emisi dengan Mematikan Lampu 1 Jam

tepat untuk menikmati hari libur dalam satu pekan. Orang-orang mengunjungi tempat-tempat hiburan untuk menghilangkan penat urusan selama hari kerja atau sekolah. Namun, apa yang Anda rasakan jika kegiatan healing harus gelap gulita karena mati lampu?

Pada hari Sabtu tanggal 26 Maret 2022, beberapa wilayah di Indonesia menjadi gelap gulita. Rumah beberapa warga mati lampu. Gemerlap gedung dan tempat publik juga tiba-tiba redup. Fenomena ini terjadi pada pukul 20.30 – 21.30 di waktu daerah setempat. Hal ini tidak terjadi tanpa alasan. Pada waktu tersebut, Earth Hour sedang diselenggarakan.

 Baca Juga : Hari Air Sedunia: Apa Kabar Pembangkit Listrik Tenaga Air? 

Mengenal Earth Hour

Earth Hour merupakan suatu gerakan yang dicanangkan oleh WWF (World Wide Fund for Nature). Gerakan ini secara sederhana dilakukan dengan mematikan lampu selama 1 jam pada pukul 20.30 – 21.30 di waktu masing-masing area aksi ini dilakukan. Masing-masing individu dapat berpartisipasi dengan mematikan lampu di rumah. Perusahaan atau bisnis juga dapat ikut serta memadamkan lampu di waktu tersebut.

Earth Hour merupakan bentuk upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan terjadinya krisis iklim. Pada tahun 2007, tepatnya tanggal 31 Maret, Earth Hour pertama kali dilakukan di Sydney, Australia. Lebih dari 2 juta orang dan 1.000 bisnis berpartisipasi mematikan lampu selama 1 jam.

Earth Hour dilakukan setiap hari Sabtu terakhir di bulan Maret. Hal ini tidak sembarang diputuskan. Pekan kedua hingga keempat Maret biasanya merupakan waktu ekuinoks musim semi dan gugur di belahan bumi utara dan selatan. Waktu ini memungkinkan matahari terbenam di waktu yang hampir bersamaan di kedua belahan bumi tersebut. Fenomena ini menjadi waktu kritis karena dapat menimbulkan dampak yang besar secara global apabila orang-orang mematikan lampu.

Sumber: WWF-Hive – Search Result (panda.org)

Earth Hour dan Emisi Karbon

Reduksi emisi karbon dari aksi mematikan lampu selama 1 jam di malam hari bukanlah tujuan utama Earth Hour. Sejatinya, kegiatan mematikan lampu tersebut merupakan aksi simbolis yang menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap krisis iklim. Maka, WWF sebagai inisiator gerakan ini tidak menghitung emisi karbon yang dapat dikurangi dengan mematikan lampu selama 1 jam.

Namun, tahukah Anda bahwa kebutuhan listrik 10% warga Jakarta setara dengan kebutuhan listrik 900 desa? Bayangkan jika warga ibu kota melakukan aksi Earth Hour! Akan ada energi listrik dalam jumlah yang cukup besar yang bisa dihemat.

Sebuah penelitian oleh Olexsak S. dan Meier A. (2014) menunjukkan bahwa Earth Hour mengurangi energi listrik di berbagai negara. Indonesia dapat mengurangi 6,6% penggunaan daya listrik berkat Earth Hour. Kanada, dengan titik kegiatan Earth Hour paling banyak dibandingkan negara-negara lain yang diobservasi, bahkan berhasil mengurangi 28% energi listrik di negaranya.

Pengurangan energi listrik tentu berimbas pada emisi karbon yang dihasilkan. Setiap MWh listrik di Indonesia dapat menghasilkan emisi sebesar sekitar 0,4 hingga 1,4 ton CO2. Maka, pengurangan energi, termasuk dengan mematikan lampu ataupun peralatan listrik yang tidak dapat digunakan akan mencegah dihasilkannya emisi gas rumah kaca.

 Baca Juga : Mengapa Lingkungan Perlu Dipertimbangkan dalam Perekonomian? 

Beyond the Hour

Kini, lebih dari 190 negara dan wilayah di segala penjuru dunia ikut serta dalam Earth Hour. Tidak hanya sebatas mematikan lampu selama 1 jam, gerakan Earth Hour juga sudah menyasar pemerintah untuk mengambil tindakan nyata dalam menanggulangi krisis iklim. Di masa pandemi pun, gerakan dilakukan lebih gencar. Earth Hour menyadarkan masyarakat bahwa penanggulangan krisis iklim berdampak pada kesehatan bumi ataupun masyarakat.

Earth Hour Indonesia banyak menginisiasi kegiatan-kegiatan penanggulangan dampak krisis iklim. Lebih dari 10.000 bibit mangrove dan 8.000 pohon ditanam oleh komunitas Earth Hour Indonesia. Aksi bersih pantai juga tidak lupa dilakukan. Transplantasi terumbu karang yang berguna bagi keanekaragaman hayati laut berhasil dilakukan hingga sebanyak lebih dari 1.000 terumbu karang. Komunitas Earth Hour juga banyak menyelenggarakan program pendidikan lingkungan.

Sejak tahun 2011, logo Earth Hour berubah menjadi “60+” dari “60” saja. Angka 60 menunjukkan waktu 60 menit mematikan lampu. Tanda + (plus) menunjukkan bahwa kita tidak boleh berhenti pada mematikan lampu selama 1 jam di waktu Earth Hour saja. Upaya yang lebih besar perlu dilakukan untuk benar-benar bisa menanggulangi krisis iklim yang terjadi. Bagaimana Earth Hour menyasar hal sederhana pada masyarakat juga menunjukkan bahwa setiap individu masyarakat memiliki peran masing-masing dalam isu global krisis iklim.

Author

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *