Menanti Mudik dengan Transportasi Umum Bertenaga Listrik

Mirekel –  Hari Raya Idul Fitri yang sebentar lagi tiba identik dengan mudik. Mudik sejatinya merupakan perpindahan seseorang dari suatu wilayah ke kampung halamannya. Dalam bermudik, transportasi memegang andil penting karena memungkinkan mobilisasi.

Sektor transportasi merupakan penyumbang 27% emisi gas rumah kaca di bidang energi. Hal ini dikarenakan bahan bakar kendaraan yang banyak digunakan masih berupa bahan bakar fosil. Tercatat sebesar 93% bahan bakar kendaraan bermotor masih berupa bahan bakar minyak (BBM) yang merupakan energi yang tidak dapat diperbaharui.

Dibutuhkan suatu solusi untuk dapat mengurangi emisi GRK yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Salah satu solusinya adalah dengan elektrifikasi kendaraan. Penggunaan listrik sebagai sumber energi kendaraan mampu menghasilkan emisi yang jauh lebih kecil dari bahan bakar fosil. Hal ini akan meringankan beban Indonesia untuk memenuhi komitmen penurunan emisi di tahun 2030.

Penggunaan kendaraan bermotor listrik di Indonesia masih sangat minim. Untuk setiap 1.000 penduduk di Indonesia, terdapat 64 orang yang menggunakan kendaraan bermotor listrik pribadi. Sayangnya, elektrifikasi kendaraan umum masih lebih minim. Padahal, penggunaan transportasi umum dapat menunjang mobilitas berkelanjutan di Indonesia.

 Baca Juga : Waspada Penimbunan BBM Subsidi Menuju Mudik Lebaran 2022

Melihat Perkembangan Elektrifikasi Kendaraan Umum di Indonesia

Di antara berbagai transportasi publik, masyarakat paling awam dengan keberadaan kereta rel listrik (KRL). KRL telah dimanfaatkan oleh banyak masyarakat untuk melakukan mobilisasi sehari-hari. namun sayangnya, KRL tidak menjangkau seluruh penjuru Indonesia. Hanya daerah-daerah tertentu saja yang masyarakatnya sudah bisa menikmati fasilitas KRL. Meskipun demikian, kita dapat melihat bahwa KRL mulai diperluas jangkauannya.

Dalam sektor bus pun, elektrifikasi mulai dilakukan. Proyek yang telah mulai menjangkau masyarakat adalah bus Transjakarta berbasis listrik. Penerapan elektrifikasi pada Transjakarta sudah dimulai sejak 2021. Jumlah single bus listrik pada tahun lalu masih sebanyak 70 armada dan low entry sebanyak 30 unit. Namun di tahun ini, jumlah Transjakarta low entry akan meningkat hingga 275 unit sehingga bus listrik pun semakin menjangkau masyarakat luas.

Sumber: Unsplash

Dibandingkan dengan transportasi umum yang digunakan di Indonesia, sektor penerbangan merupakan sektor yang paling menantang untuk dielektrifikasi. Saat ini, Indonesia masih terus melakukan riset untuk bisa mengembangkan pesawat bertenaga listrik. Pesawat listrik, selain menurunkan emisi gas rumah kaca, dapat menurunkan biaya operasional. Hal ini akan berpengaruh pada penurunan harga tiket yang tentu menguntungkan masyarakat.

Pesawat listrik yang telah dikembangkan saat ini masih memiliki kendala terutama dalam hal baterai. Baterai pesawat berukuran besar sehingga menambah beban pesawat dibandingkan dengan pesawat biasa. Dari segi kecepatan terbang pun pesawat listrik masih memerlukan riset lebih lanjut.

 Baca Juga : Meninjau Potensi Ekonomi Sirkular dalam Sektor Tekstil 

Permasalahan Utama Emisi Kendaraan Listrik adalah Sumber Listriknya

Penggunaan listrik dalam kendaraan memang mengurangi emisi pada proses pemakaiannya. Namun kita tidak boleh lupa bahwa sumber energi listrik Indonesia masih didominasi oleh batu bara. Maka dari itu, penting pula bagi Indonesia untuk mengatasi masalah dari akarnya, yaitu melakukan transisi energi listrik.

Author

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *