Indonesia Ikut Menciptakan Sistem Penilaian ESG Perusahaan

Mitra Rekayasa Keberlanjutan – Penilaian ESG (Environmental, Social, and Governance) perusahaan sudah banyak diterapkan oleh berbagai negara. Penilaian ESG dapat melihat perusahaan mana yang memiliki performa bisnis yang baik dalam kaitannya dengan isu ESG. Indonesia tidak mau ketinggalan dalam hal ini. Maka, sistem penilaian ESG sudah mulai dikembangkan di Indonesia.

Yayasan KEHATI bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan indeks saham berbasis ESG pada akhir tahun 2021. Kedua indeks saham tersebut adalah ESG Sector Leaders (SL) dan ESG Quality (ESGQ) 45 IDX KEHATI. Kedua indeks ini merupakan pelengkap dari indeks sebelumnya yaitu Sustainable Responsible Investment (SRI) KEHATI. Indeks tersebut dulunya merupakan satu-satunya referensi untuk investasi ESG di pasar modal Indonesia.

Indeks ESG SL IDX KEHATI berisi saham dengan penilaian kinerja ESG di atas rata-rata sektornya. Sesuai dengan namanya, yaitu Sector Leaders, saham-saham terpilih merupakan perwakilan terbaik dari sektor masing-masing. Pembagian sektor dilakukan sesuai dengan pembagian industri BEI yaitu pada IDX Industrial Classification (IDX-IC).

Baca Juga : Menilik Sisi Lain Penilaian ESG: Apa Benar Menjadi Solusi? 

Di sisi lain, ESGQ 45 IDX KEHATI berisi 45 saham terbaik hasil penilaian kinerja keberlanjutan dan kualitas keuangan perusahaan. Selain itu, perusahaan juga harus memiliki likuiditas yang baik sehingga dapat dilakukan transaksi sebagai konstituen. Indeks ini pada dasarnya menggabungkan aspek ESG dan keuangan dalam penilaiannya.

Sumber: https://kehati.or.id

Proses Seleksi Konstituen Saham KEHATI

Sumber: Unsplash

Proses seleksi ESG SL IDX KEHATI dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahap yang pertama yaitu Penyaringan Aspek Keuangan dan Likuiditas. Beberapa hal yang diamati mencakup total aset perusahaan, laba bersih, kapitalisasi pasar, free float, hingga average trading value.

Setelah disaring pada tahap awal perusahaan akan dikenakan tahap 2 yaitu Penyaringan Bisnis Inti. Dalam tahap ini diperiksa mengenai dampak negatif yang diakibatkan oleh perusahaan. Terdapat beberapa aspek yang ditinjau, antara lain penggunaan pestisida, nuklir, persenjataan, tembakau, ataupun alkohol.

Dalam tahap ini dapat pula diuji bagaimana dampak terhadap sosial masyarakat, seperti apakah terdapat tindakan perjudian dan pornografi. Perilaku kontroversial seperti penggunaan Genetically Modified Organism juga harus diteliti dalam tahap ini. Kasus khusus seperti pertambangan batu bara yang menyebabkan dampak besar bagi lingkungan dan sosial juga menjadi pertimbangan.

Baca Juga : Memaksimalkan 3 Fungsi DPR dalam Penanganan Isu Iklim

Selanjutnya dilakukan Penilaian Aspek ESG Perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang diuji ESGnya telah melewati 2 tahapan sebelumnya. Untuk aspek lingkungan, hal-hal yang diuji mencakup penggunaan sumber daya serta produksi limbah dan emisi. Pada aspek sosial, dilihat bagaimana pengembangan pegawai dilakukan oleh perusahaan. Selain itu juga diperiksa dampak sosial lingkungan dan praktik K3.

Di bidang tata kelola, upaya perlindungan hak pemegang saham menjadi pertimbangan penilaian. Selain itu, etika bisnis serta praktik manajemen berkelanjutan juga dapat diamati. Aspek kompetensi dan peran Dewan komisaris dan Direksi harus diperiksa dalam tahap ini. Selain itu, kualitas keterbukaan informasi kepada publik juga diuji.

Penerbitan Indeks Saham ESG Menjawab Dinamika Masa Kini

Diterbitkannya kedua indeks ini bertujuan untuk menjawab keresahan investor terkait dengan saham yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Diluncurkannya kedua indeks ini juga merupakan bentuk dukungan terhadap komitmen Otoritas Jasa Keuangan dalam mendorong implementasi keuangan berkelanjutan di Indonesia.

Baca Juga : Memelihara Kolaborasi IAP2 Indonesia Bersama KemenPAN RB

Indonesia tidak mau kalah dalam menciptakan sistem penilaian kinerja ESG perusahaan. Bukan hanya untuk berdaya saing dengan negara-negara lain, pengadaan penilaian ESG dilakukan untuk meninjau apakah perusahaan mempertimbangkan aspek ESG. Dengan dorongan ketertarikan masyarakat akan perusahaan yang menganut manajemen ESG yang baik, perusahaan akan semakin berlomba-lomba meningkatkan performa ESGnya. Hal ini diharapkan dapat berdampak baik pada atmosfer bisnis di Indonesia.

 

Author

Similar Posts

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *