SMART ENERGY & SMART GRID: CARA ARSITEKTUR KOTA MENGUNCI PENURUNAN EMISI

PT. Mitra Rekayasa Keberlanjutan – Ada satu elemen penting dalam smart city yang sering luput dari perhatian: listrik. Listrik nyaris tidak terlihat. Kita baru benar-benar menyadarinya saat terjadi pemadaman, saat tagihan melonjak, atau saat kualitas udara memburuk. Padahal, di banyak kota, energi merupakan salah satu sumber emisi terbesar—sekaligus pos biaya operasional yang terus meningkat secara diam-diam dari tahun ke tahun.

Jika smart city ingin benar-benar berdampak, pertanyaannya sederhana: mengapa tidak mulai dari energi?

1) BANYAK KOTA “MENGHEMAT ENERGI”, TAPI TIDAK BENAR-BENAR TAHU APA YANG TERJADI

Smart Energy Smart Grid

Sumber: cedsgreeb.org

Banyak pemerintah kota sudah menjalankan program efisiensi energi: mengganti lampu ke LED, memasang panel surya, membangun gedung hijau. Semua ini langkah positif.

Namun, masalah yang sering muncul adalah:

  • Data pemakaian energi tersebar di banyak instansi (dinas, pengelola aset, vendor, penyedia listrik).
  • Tidak ada peta konsumsi energi yang menjelaskan gedung mana paling boros, kapan beban puncak terjadi, dan apa penyebabnya.
  • Kebijakan terlihat baik di atas kertas, tetapi dampaknya sulit diukur secara konsisten.

Akibatnya, kota seperti berlari sambil menutup mata—berusaha menghemat, tetapi tanpa visibilitas yang jelas. Di sinilah smart energy management dan smart grid menjadi relevan: bukan untuk sekadar terlihat canggih, melainkan untuk membuat kota mampu mengendalikan energi secara sistematis dan terukur.

2) SMART GRID ITU APA? (DALAM BAHASA ORANG BIASA)

Sumber: halorobotics.com

Bayangkan jaringan listrik seperti jalan raya. Tanpa rambu, sensor lalu lintas, dan sistem pengatur, kemacetan sulit diprediksi dan kecelakaan sulit dicegah. Hal yang sama berlaku untuk listrik.

Smart grid adalah jaringan listrik yang memiliki “indera dan kendali”: ia bisa memantau beban, mengatur aliran energi, serta merespons perubahan permintaan secara dinamis.

Ini menjadi semakin penting karena kota modern makin terelektrifikasi: kendaraan listrik (EV), AC, data center, pompa air, kompor listrik, hingga infrastruktur digital semuanya menambah beban jaringan.

Tanpa grid yang lebih pintar, kota menghadapi dua risiko utama:

  • Tekanan pada jaringan saat beban puncak, yang meningkatkan risiko gangguan dan pemadaman.
  • Kesulitan mengintegrasikan energi terbarukan, yang sifatnya fluktuatif dan tidak selalu stabil.

3) “TRIK” YANG SERING PALING CEPAT: DEMAND RESPONSE

Sumber: CNBC Indonesia

Banyak orang mengira solusi energi selalu berarti menambah pasokan listrik. Padahal, salah satu strategi paling cepat dan efektif justru adalah mengatur permintaan. Konsep ini dikenal sebagai demand response: mendorong pengguna listrik untuk menggeser konsumsi ke jam-jam dengan beban lebih rendah, biasanya melalui insentif harga, notifikasi, atau otomatisasi sistem.

Dalam bahasa sederhana: jika semua orang menyalakan AC, pompa, dan charger kendaraan di waktu yang sama, jaringan akan tegang. Namun jika sebagian beban bisa dipindahkan ke jam yang lebih longgar, sistem menjadi lebih stabil, lebih hemat, dan lebih efisien.

Ini sangat sejalan dengan prinsip smart city, karena membutuhkan:

  • Data beban listrik yang akurat
  • Sistem insentif yang adil
  • Komunikasi yang jelas kepada pengguna
  • Platform operasional untuk mengelola respons secara real-time

4) MENGAPA SMART ENERGY LANGSUNG TERKAIT DENGAN ESG?

Smart Energy Smart Grid

Sumber: suryaenergi.co.id

Smart energy bukan hanya soal teknologi—ia langsung menyentuh tiga pilar ESG.

E — Environment (Lingkungan)

  • Efisiensi energi berarti penurunan emisi, terutama jika listrik masih bergantung pada bahan bakar fosil.
  • Smart grid membantu integrasi energi terbarukan secara lebih aman dan stabil.

S — Social (Sosial)

  • Energi yang lebih efisien dapat menurunkan biaya layanan publik, sehingga anggaran bisa dialihkan ke sektor sosial.
  • Program insentif harus dirancang adil, agar rumah tangga rentan tidak menanggung beban yang tidak proporsional.

G — Governance (Tata Kelola)

  • Kota memerlukan tata kelola data energi yang jelas: siapa pemilik data, bagaimana standar, siapa yang punya akses, dan bagaimana keamanannya.
  • Keputusan investasi energi harus berbasis data dan bukti, bukan semata mengikuti tren teknologi.

5) KONTEKS INDONESIA: ENERGI SUDAH MASUK DALAM ARAH KEBIJAKAN SMART CITY

Smart Energy Smart Grid

Sumber: kabarpapua.co

Dalam Cetak Biru Kota Cerdas Nusantara (IKN), energi telah ditempatkan sebagai domain strategis melalui pilar Smart Natural Resource and Energy, sejajar dengan governance, mobility, living, industry, dan built infrastructure.

Artinya, secara kebijakan nasional, energi sudah diakui sebagai fondasi smart city, bukan fitur tambahan.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana menerjemahkan arah kebijakan ini menjadi arsitektur kota yang benar-benar berjalan—operasional, terukur, dan berdampak.

6) BLUEPRINT PRAKTIS: “CITY ENERGY STACK” — 7 LANGKAH YANG REALISTIS

Sumber: detik News

Jika sebuah kota ingin memulai smart energy secara rapi dan pragmatis, berikut pendekatan yang lebih realistis:

  1. Tentukan outcome yang jelas (misalnya: tagihan listrik gedung pemerintah turun 15% dalam 12 bulan, emisi menurun, pemadaman berkurang).
  2. Pilih KPI yang sederhana dan terukur (kWh/m² gedung, beban puncak, jam puncak, downtime, biaya energi per layanan).
  3. Bangun peta aset energi kota (gedung publik, PJU, rumah sakit, sekolah, pompa air, fasilitas kritis).
  4. Tarik data minimal yang konsisten (tagihan listrik, meter, jam operasi, kondisi peralatan).
  5. Mulai demand response untuk fasilitas public (pengaturan jadwal AC, pompa, charger EV, genset, storage).
  6. Integrasikan energi terbarukan secara bertahap (solar rooftop, battery storage, microgrid untuk fasilitas penting).
  7. Bangun governance & SOP yang jelas (siapa operator, siapa pengambil keputusan, dan apa yang dilakukan saat beban puncak).

Baca juga: DIGITAL TWIN UNTUK ESG: DARI SIMULASI EMISI SAMPAI KETAHANAN BENCANA

Yang perlu ditekankan: ini bukan sekadar proyek IT—ini adalah proyek operasional kota.

Kesimpulan

Smart energy dan smart grid adalah salah satu cara paling konkret bagi kota untuk mengunci penurunan emisi sekaligus mengendalikan biaya dan risiko operasional. Dengan arsitektur energi yang lebih pintar—mulai dari visibilitas data, pengaturan permintaan, hingga integrasi energi terbarukan—kota dapat beralih dari pendekatan reaktif menjadi proaktif dan berbasis bukti. Di konteks Indonesia, arah kebijakan sudah ada; tantangannya kini terletak pada eksekusi yang disiplin, bertahap, dan terhubung dengan tata kelola yang kuat. Kota yang mampu mengelola energi dengan baik bukan hanya lebih hemat dan lebih hijau, tetapi juga lebih berdaulat, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi masa depan.

 

Referensi

International Energy Agency. Demand response. IEA.

International Energy Agency. Renewable energy integration. IEA.

International Energy Agency. Smart grids. IEA.

Otorita Ibu Kota Nusantara. (2023). Cetak biru Kota Cerdas Nusantara. OIKN.

Author

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *