DIGITAL TWIN UNTUK ESG: DARI SIMULASI EMISI SAMPAI KETAHANAN BENCANA

PT. Mitra Rekayasa Keberlanjutan – Bayangkan kamu punya kota kembar. Bukan kota sungguhan—tidak ada warganya, tidak ada hiruk pikuk kehidupan. Tapi kota ini memiliki bentuk bangunan, jalan, sungai, drainase, jaringan listrik, ruang hijau, hingga pola perilaku kota yang terus diperbarui oleh data. Lalu suatu hari kamu bertanya:
“Kalau hujan ekstrem datang malam ini, jalan mana yang akan tergenang lebih dulu?”
“Kalau kita menambah ruang hijau 10 hektare di kawasan ini, suhu turun berapa derajat?”
“Kalau lampu jalan dan konsumsi listrik gedung kita optimalkan, emisi turun berapa?”

Kota kembar itu menjawab—melalui simulasi, sebelum kota asli merasakan dampaknya.

Itulah ide dasar digital twin: menguji keputusan di dunia virtual, sebelum menanggung risikonya di dunia nyata.

1) DIGITAL TWIN BUKAN SEKADAR 3D YANG CANTIK

digital twin untuk esg

Sumber: ids.ac.id

Banyak orang mengira digital twin hanyalah peta 3D yang menarik secara visual. Padahal, visual hanyalah permukaan.

Digital twin yang benar-benar berguna—terutama untuk ESG—harus memiliki tiga komponen utama:

  • Model kota (3D atau non-3D)
  • Aliran data real-time (sensor, laporan, data operasional)
  • Mesin simulasi & analisis untuk menguji skenario kebijakan dan operasional

Saat ketiganya terintegrasi, digital twin berubah dari sekadar gambar kota menjadi alat bantu pengambilan keputusan.

Dan ini sangat relevan untuk ESG, karena ESG menuntut:

  • Pengukuran dan prediksi dampak lingkungan (E)
  • Perlindungan keselamatan dan kesejahteraan warga (S)
  • Keputusan yang transparan, berbasis data, dan dapat dipertanggungjawabkan (G)

2) MENGAPA DIGITAL TWIN KRUSIAL UNTUK “E” (LINGKUNGAN)?

Sumber: smartspatial.com

Ambil contoh emisi dan energi.

Banyak kota menjalankan program hemat energi—namun kesulitan mengukur dampaknya secara konsisten dan terintegrasi. Digital twin membantu dengan cara:

  • Memetakan konsumsi energi gedung publik
  • Menguji berbagai skenario (retrofit bangunan, solar rooftop, smart grid)
  • Menghitung dampak kebijakan terhadap emisi karbon secara kuantitatif

Dengan digital twin, kota tidak hanya berkata “kami ingin lebih hijau”, tetapi bisa menjawab:
“Jika kebijakan ini diterapkan, emisi turun X% dalam Y tahun.”

Bukti dari berbagai kota menunjukkan bahwa digital twin dapat menjadi fondasi untuk strategi kota yang climate-neutral dan resilient, termasuk dalam perencanaan regenerasi kawasan dan kebijakan energi.

3) MENGAPA DIGITAL TWIN PENTING UNTUK “S” (KESELAMATAN & LAYANAN WARGA)?

digital twin untuk esg

Sumber: un-spider.org

Di sinilah dampaknya terasa paling nyata: keselamatan dan ketahanan kota.

Digital twin dapat digunakan untuk:

  • Mensimulasikan banjir (aliran air, titik genangan, jalur evakuasi)
  • Menganalisis risiko gelombang panas, terutama bagi lansia dan kelompok rentan
  • Memetakan akses layanan darurat (ambulans, rumah sakit, jalur tercepat)
  • Menguji skenario bencana sebelum terjadi di dunia nyata

Artinya, kota bisa belajar dari simulasi—bukan dari tragedi.

Digital twin membantu mengurangi trial and error di dunia nyata, yang di konteks kota berarti risiko nyawa, biaya besar, dan dampak sosial luas.

4) MENGAPA DIGITAL TWIN PENTING UNTUK “G” (TATA KELOLA & AKUNTABILITAS)?

digital twin untuk esg

Sumber: mdpi.com

Masalah klasik dalam kebijakan publik: setiap pihak membawa angka dan asumsi sendiri.

Digital twin—jika dibangun dengan governance data yang kuat—bisa menjadi ruang bersama untuk menyepakati:

  • Data apa yang digunakan
  • Asumsi apa yang dipakai
  • Skenario apa yang diuji
  • Mengapa keputusan tertentu diambil

Hasilnya, kebijakan tidak lagi berdasar pada “katanya”, melainkan:
“berdasarkan simulasi dan data yang telah disepakati bersama.”

Ini memperkuat transparansi, legitimasi kebijakan, dan kepercayaan publik.

5) DIGITAL TWIN YANG REALISTIS: JANGAN LANGSUNG SKALA SELURUH KOTA

Sumber: mdpi.com

Kesalahan paling umum: ingin membangun digital twin seluruh kota sekaligus—detail tinggi, mahal, kompleks, dan akhirnya tidak terpakai.

Pendekatan yang lebih sehat dan strategis:

  • Pilih 1–2 masalah prioritas (banjir, energi, transportasi)
  • Pilih 1 kawasan pilot (CBD, kawasan padat, zona rawan banjir)
  • Bangun digital twin yang cukup untuk menjawab pertanyaan kebijakan
  • Setelah terbukti berguna, baru diperluas secara bertahap

Digital twin yang efektif bukan yang paling megah, tetapi yang dipakai untuk mengambil keputusan nyata.

6) “BAHAN BAKU” DIGITAL TWIN: DARI DATA STATIS KE DATA DINAMIS

Sumber: researchgate.net

Digital twin bertumpu pada dua jenis data:

Data statis:

  • Peta bangunan
  • Jalan, drainase, zoning
  • Kontur dan tata ruang

Data dinamis:

  • Curah hujan real-time
  • Sensor banjir
  • Lalu lintas
  • Konsumsi energi
  • Laporan warga

Digital twin yang kuat menggabungkan keduanya.

Namun satu hal penting: data dinamis tanpa SOP dan governance = chaos.

Baca juga: Data Governance & Trust: Fondasi “S” dan “G” dalam SMART CITY

Karena itu, digital twin harus berdiri di atas tata kelola data smart city yang rapi, aman, dan terstruktur—bukan sekadar tumpukan data yang tidak terkoordinasi.

7) CARA PALING MUDAH MENJELASKAN DIGITAL TWIN KE PIMPINAN KOTA

Sumber: slideteam.net

Jika kamu hanya punya 30 detik untuk menjelaskan ke wali kota atau gubernur, gunakan kalimat ini:

“Digital twin membuat kita bisa menguji keputusan sebelum kita membayar mahal di dunia nyata.”

Lalu tekankan tiga manfaat yang paling relevan bagi pimpinan:

  • Pengurangan risiko (banjir, kemacetan, kecelakaan)
  • Penghematan biaya (energi, operasional, perawatan)
  • Peningkatan kualitas layanan publik (lebih cepat, lebih adil, lebih tepat sasaran)

 

Kesimpulan

Digital twin bukan sekadar representasi visual kota dalam bentuk 3D, melainkan alat strategis untuk membantu pemerintah dan pemangku kepentingan mengambil keputusan yang lebih cerdas, terukur, dan bertanggung jawab. Dengan kemampuannya mensimulasikan dampak kebijakan—mulai dari pengurangan emisi hingga peningkatan ketahanan bencana—digital twin memungkinkan kota mengurangi risiko, menghemat biaya, serta meningkatkan kualitas layanan publik sebelum keputusan diterapkan di dunia nyata.

Namun, manfaat ini hanya dapat terwujud jika digital twin dibangun dengan fokus pada kebutuhan nyata, dimulai dari skala yang realistis, dan ditopang oleh tata kelola data yang kuat. Ketika digunakan dengan tepat, digital twin dapat menjadi fondasi penting bagi pembangunan smart city yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga selaras dengan prinsip ESG—lebih berkelanjutan, lebih transparan, dan lebih berpihak pada warga.

 

Referensi

OECD. (2023). Smart city data governance: Policies and practices. OECD Publishing.

Therias, A., et al. (2023). City digital twins for urban resilience. International Journal of Urban Sciences. Taylor & Francis.

Ricciardi, G., et al. (2022). Digital twins for climate-neutral and resilient cities. In Smart cities and digital transformation (Springer Nature).

Author

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *