Hari Energi Bersih Internasional: Sejauh Mana Transisi Energi Sudah Berjalan?

PT. Mitra Rekayasa Keberlanjutan – Hari Energi Bersih Internasional diperingati setiap 26 Januari sebagai momentum global untuk mendorong transisi menuju sistem energi yang lebih bersih, berkelanjutan, dan inklusif. Pada 2026, peringatan ini menjadi refleksi atas kemajuan transisi energi dunia di tengah meningkatnya permintaan energi dan tantangan krisis iklim yang kian nyata.
Pada 2024, permintaan energi global tumbuh sekitar 2,2%, dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor listrik yang meningkat lebih dari 4%, didorong oleh elektrifikasi transportasi, penggunaan pendingin udara, serta ekspansi pusat data dan industri digital. Namun, di sisi lain, lebih dari 675 juta orang di dunia masih belum memiliki akses listrik yang andal, terutama di kawasan Afrika Sub-Sahara, sehingga pencapaian SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) masih menghadapi kesenjangan besar.
Sektor energi masih menjadi kontributor utama emisi gas rumah kaca global, dengan dominasi bahan bakar fosil dalam bauran energi dunia. Karena itu, percepatan transisi energi bersih menjadi kunci untuk menekan laju emisi dan menjaga kenaikan suhu global tetap terkendali.
Kemajuan Global Transisi Energi

Sumber: statista.com
Tahun 2024 mencatat rekor baru dalam pengembangan energi terbarukan. Tambahan kapasitas terbarukan global mencapai sekitar 510 GW, didorong oleh ekspansi besar-besaran tenaga surya dan angin di China, Amerika Serikat, Eropa, dan India. Secara kumulatif, kapasitas terpasang energi terbarukan dunia mendekati 5.800 GW pada 2025.
Energi terbarukan kini menyumbang sekitar 30–32% pembangkitan listrik global, dan diproyeksikan meningkat hingga 42–45% pada 2030 jika tren saat ini berlanjut. Hampir 80% tambahan pembangkitan listrik baru berasal dari sumber energi bersih, dengan China memimpin lebih dari dua pertiga kapasitas surya dan angin baru sejak 2022.
Data Utama Transisi Energi 2024-2025
| Indikator | Nilai 2024 | Proyeksi 2025 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan permintaan energi global | 2,2% | – |
| Tambahan kapasitas terbarukan | 510 GW (2024), 520 GW | 5.800 GW total |
| Share renewables di listrik | 32% | 35% |
| Emisi CO2 energi | Naik 0,8% (300 Mt) | – |
| Penjualan EV global | >17 juta unit (20% total mobil) | – |
Clean energy hindari 2,6 Gt CO2/tahun sejak 2019. Minyak turun di bawah 30% share permintaan energi pertama kali.
Tantangan dalam Transisi Energi Bersih

Sumber: rff.org
Meski kemajuan signifikan, laju transisi energi global masih jauh dari target Perjanjian Paris. Pada kecepatan saat ini, dunia baru mencapai sekitar 13–15% dari jalur yang dibutuhkan menuju net-zero emission 2050. Hambatan utama meliputi keterbatasan infrastruktur jaringan listrik, proses perizinan yang lambat, serta kesenjangan pembiayaan di negara berkembang.
Selain itu, konsumsi batubara masih tinggi di beberapa negara besar. China, misalnya, masih mengandalkan batubara dalam sistem energinya, sementara intensitas energi global hanya turun sekitar 1%, lebih lambat dibandingkan dekade sebelumnya akibat cuaca ekstrem dan aktivitas industri yang meningkat.
Kasus Indonesia : Antara Target dan Implementasi

Sumber: bkvenergy.com
Indonesia menargetkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), namun realisasinya masih tertinggal. Melalui RUPTL 2025–2034, pemerintah merencanakan penambahan sekitar 42,6 GW kapasitas pembangkit EBT, dengan dominasi tenaga surya.
Komitmen penghentian operasional PLTU secara bertahap hingga 2040 menjadi langkah strategis, tetapi tantangan pembiayaan, kepastian regulasi, dan mekanisme pengadaan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Untuk mencapai kebutuhan sekitar 75 GW kapasitas EBT pada 2040, dibutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan.
Masa Depan dan Ajakan Aksi

Sumber: goodstats.id
Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan kapasitas energi terbarukan global dapat meningkat hingga 8.300 GW pada 2030 jika percepatan dilakukan secara konsisten. Namun, dunia perlu menambah sekitar 800 GW per tahun, disertai investasi besar pada jaringan listrik dan sistem penyimpanan energi.
Baca juga: Energi Panas Bumi Kian Strategis dalam Transisi Energi
Hari Energi Bersih Internasional 2026 menjadi pengingat bahwa transisi energi bukan sekadar isu teknologi, melainkan agenda pembangunan yang inklusif. Investasi global senilai lebih dari USD 1,3 triliun per tahun, sebagaimana didorong melalui UN-Energy Compacts, menjadi kunci untuk memastikan energi bersih dapat diakses secara adil dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Peringatan Hari Energi Bersih Internasional 2026 menegaskan bahwa transisi energi global telah menunjukkan kemajuan signifikan, terutama melalui percepatan pengembangan energi terbarukan dan elektrifikasi sektor utama. Namun, laju tersebut masih belum cukup untuk mencapai target net-zero emisi pada 2050. Kesenjangan infrastruktur, pembiayaan, dan kebijakan, terutama di negara berkembang menjadi tantangan utama yang perlu segera diatasi. Bagi Indonesia, transisi energi membutuhkan konsistensi kebijakan, kepastian investasi, dan kolaborasi lintas sektor agar energi bersih tidak hanya menjadi komitmen, tetapi benar-benar terimplementasi secara berkelanjutan.
Referensi
McKinsey Global Institute. (2025, November 5). The energy transition in 2025: Taking stock of progress.
Carbon Credits. (2025, October 8). Renewables 2025: How China, the US, Europe, and India are leading the world’s clean energy growth.
Antara News. (2025, June 9). Indonesia fokus wujudkan target transisi energi bersih pada 2025.
International Energy Agency. (2025). Global Energy Review 2025.
United Nations Indonesia. (2023, August 22). Hari Energi Bersih Internasional – 26 Januari.






