ESG yang menarik untuk Gen Z

PT. Mitra Rekayasa Keberlanjutan – Generasi Z, kelompok usia 18-25 tahun yang mendominasi 27% populasi Indonesia, sedang merevolusi cara pandang terhadap keberlanjutan. Lahir di era digital pasca-krisis iklim dan pandemi, Gen Z tumbuh dengan kesadaran bahwa pilihan harian memengaruhi planet dan masyarakat. Konsep Environmental, Social, and Governance (ESG)—yang awalnya domain korporat—kini jadi gaya hidup praktis, mulai dari scroll Instagram hingga side hustle kreatif. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang melihat ESG sebagai kewajiban formal, Gen Z mengubahnya menjadi tren viral seperti zero waste challenge di TikTok, investasi hijau via app fintech, dan kolaborasi sosial lewat Discord. Pendekatan ini membuat ESG terasa fun, relatable, dan actionable, dorong partisipasi massal tanpa terasa membebani. Dengan akses informasi instan dan nilai-nilai inklusif, Gen Z tidak hanya konsumsi konten, tapi ciptakan perubahan nyata melalui konsumsi sadar dan entrepreneurship berkelanjutan.
Pilar Lingkungan: Zero Waste yang Stylish

Sumber: amazon
Generasi Z memimpin tren zero waste melalui pilihan sehari-hari yang hemat dan estetis. Bawa tumbler reusable ke kafe bukan sekadar tren, tapi aksi nyata mengurangi 500 miliar botol plastik global per tahun. Pilihan thrift shopping di platform seperti Shopee kurangi limbah fast fashion, sekaligus hemat hingga 70% dibanding belanja baru.
Tanam microgreens di balkon apartemen jadi solusi urban farming sederhana. Bibit sayur organik ini tumbuh dalam 7-14 hari, sediakan nutrisi tanpa pestisida. Gen Z juga aktif di challenge TikTok #PlasticFreeJuly, yang capai miliaran view, dorong perilaku berkelanjutan massal.
Aspek Sosial: Kolaborasi Digital Inklusif

Sumber: socialpinpoint
ESG sosial bagi Gen Z berarti koneksi autentik via platform digital. Ikut komunitas Discord atau Instagram untuk clean-up pantai lokal bangun solidaritas antargenerasi. Dukung UMKM etis lewat live shopping Shopee tingkatkan pendapatan pekerja informal hingga 30%, sesuai data BPS 2024. Awareness mental health via story IG atau Reels promosikan inklusi. Kampanye #BreakTheStigma capai 500 juta impresi di Indonesia, ubah stigma jadi dukungan komunal. Kolaborasi influencer dengan NGO seperti WWF Indonesia perkuat dampak sosial, buat Gen Z bagian dari perubahan.
Baca juga: Bagaimana Teknologi Memperkuat Upaya Perlindungan Satwa Liar di Era ESG
Tata Kelola: Investasi Cerdas dan Transparan

Sumber: labusinessjournal
Governance ESG ajak Gen Z pilih merek dan investasi etis. Aplikasi Bibit atau Ajaib tawarkan reksa dana ESG dengan return rata-rata 8-12% tahunan, unggul dari konvensional. Label “cruelty-free” atau “fair trade” di produk kecantikan jadi syarat belanja, dorong transparansi rantai pasok. Partisipasi di Annual General Meeting (AGM) startup via platform seperti Tokopedia saham beri suara pada etika bisnis. Gen Z prioritaskan perusahaan dengan dewan direksi beragam, kurangi risiko korupsi hingga 25% berdasarkan studi global.
Integrasi ESG dalam Side Hustle Gen Z

Sumber: waseda
Side hustle Gen Z content creator seperti Jerome Polin, memberikan edukasi populer, terapkan ESG lewat konten NIOMI Channel yang promosikan literasi finansial (social), kolaborasi ramah lingkungan (environmental), dan transparansi sponsorship (governance). Monetisasi via affiliate eco-product seperti tumbler reusable hasilkan income sambil edukasi jutaan followers. Data survei McKinsey 2025 tunjuk 68% Gen Z tolak kerja non-ESG, pilih gig economy (pekerjaan lepas) berkelanjutan. Ini ciptakan ekosistem bisnis muda yang tangguh dan adaptif.
Tantangan dan Solusi untuk Gen Z

Sumber: english news
Kendala utama adalah akses informasi dan biaya awal. Solusi perihal edukasi via podcast seperti “Gen Z Hijau” atau webinar gratis OJK. Komunitas seperti Zero Waste Indonesia sediakan paket yang murah, mulai Rp50.000 untuk starter kit. Regulasi pemerintah seperti POJK No. 51/2017 dorong pelaporan ESG, bantu Gen Z verifikasi brand. Tantangan lain, greenwashing, diatasi dengan aplikasi seperti Good On You yang rating keaslian klaim ESG.
Kesimpulan
ESG ala Gen Z transformasikan konsep korporat jadi aksi harian yang menyenangkan dan berdampak, dari scroll IG hingga side hustle hijau. Integrasi pilar lingkungan, sosial, dan tata kelola ciptakan generasi sadar yang dorong perubahan sistemik. Dengan komitmen ini, Gen Z tidak hanya selamatkan planet, tapi bangun karier dan komunitas berkelanjutan. Mulai hari ini, satu tumbler bisa jadi awal revolusi.
Referensi
McKinsey & Company. (2025). The state of Gen Z in Asia-Pacific.
Zero Waste Indonesia. (2025). Panduan zero waste untuk pemula.
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik tenaga kerja Indonesia. BPS.
WWF Indonesia. (2024). Laporan kampanye plastik sekali pakai. WWF.
Otoritas Jasa Keuangan. (2017). Peraturan OJK No. 51/POJK.03/2017 tentang penerapan keuangan berkelanjutan. OJK.






