Energi Panas Bumi Kian Strategis dalam Transisi Energi

panas bumi transisi energi Pembangkit listrik termal - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

PT. Mitra Rekayasa Keberlanjutan – Energi panas bumi semakin menempati posisi strategis dalam agenda transisi energi global maupun nasional. Di tengah kebutuhan akan sumber energi bersih yang andal dan berkelanjutan, panas bumi menawarkan keunggulan sebagai sumber baseload yang mampu beroperasi stabil tanpa bergantung pada kondisi cuaca. Bagi Indonesia, yang berada di jalur Ring of Fire, potensi ini menjadi aset penting dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan emisi karbon.

Hingga akhir 2025, kapasitas terpasang panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 2,7 GW, menempatkan Indonesia sebagai produsen panas bumi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Pertumbuhan ini didukung oleh kebijakan nasional, termasuk Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, yang menargetkan penambahan 5,2 GW kapasitas panas bumi sebagai bagian dari perluasan energi terbarukan.

Potensi dan Kapasitas Panas Bumi Indonesia

Sumber: detikcom

Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23–24 GW, yang tersebar di berbagai wilayah vulkanik. Namun, pemanfaatannya hingga kini masih relatif terbatas dibandingkan total potensi yang tersedia. Di sisi lain, bauran energi bersih nasional masih berada di bawah target, sementara dominasi energi fosil tetap kuat dalam sistem kelistrikan.

Kondisi ini menegaskan bahwa panas bumi belum sepenuhnya dimaksimalkan, meskipun perannya semakin relevan dalam mendukung target jangka panjang transisi energi. Di tingkat global, kapasitas panas bumi tercatat berada di kisaran 17 GW pada akhir 2024, dengan pertumbuhan yang stabil dan pasar yang diproyeksikan terus berkembang hingga 2030 seiring meningkatnya kebutuhan energi rendah karbon.

Peran Investasi dan Inovasi Teknologi

panas bumi transisi energi

Sumber: OG Indonesia

Pengembangan panas bumi membutuhkan investasi besar dan kepastian kebijakan. Di Indonesia, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) menargetkan pengembangan kapasitas hingga 1 GW melalui inovasi teknologi, efisiensi biaya, dan kolaborasi strategis. Sejumlah proyek baru direncanakan hingga awal dekade 2030-an, dengan nilai investasi yang signifikan untuk mendukung eksplorasi dan pengembangan lapangan panas bumi.

Di tingkat global, inovasi seperti next-generation geothermal dan pemanfaatan panas bumi untuk kebutuhan panas industri mulai mendapat perhatian. Laporan dan kajian internasional menunjukkan bahwa teknologi panas bumi generasi baru berpotensi memperluas pemanfaatan panas bumi, tidak hanya untuk pembangkit listrik, tetapi juga untuk mendukung dekarbonisasi sektor industri yang selama ini sulit dialihkan dari energi fosil.

Kebijakan dan Arah Pemerintah

Sumber: PLN

Pemerintah Indonesia menempatkan panas bumi sebagai salah satu pilar energi terbarukan dalam RUPTL 2025–2034. Sekitar 70% dari tambahan kapasitas listrik baru direncanakan berasal dari energi terbarukan, termasuk panas bumi. Berbagai insentif juga disiapkan, mulai dari kemudahan perizinan, dukungan fiskal, hingga skema tarif yang lebih kompetitif untuk menarik minat investor.

Selain itu, penguatan ekosistem riset dan pengembangan juga dilakukan melalui pembentukan pusat keunggulan panas bumi, yang diharapkan dapat mendorong inovasi, pengembangan sumber daya manusia, serta kolaborasi internasional. Upaya ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pembangkit, tetapi juga untuk memperkuat rantai nilai panas bumi secara nasional.

Panas Bumi dalam Konteks Transisi Energi

Sumber: rated power

Dibandingkan sumber energi terbarukan lain seperti surya dan angin, panas bumi memiliki keunggulan dalam hal keandalan sistem. Tingkat ketersediaan yang tinggi memungkinkan panas bumi berperan sebagai penopang stabilitas jaringan listrik. Selain itu, pengembangan panas bumi berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja, pengurangan impor energi fosil, dan penurunan emisi gas rumah kaca.

Baca juga: Potensi Geothermal sebagai Pengganti Batu Bara

Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait risiko eksplorasi, kebutuhan pendanaan awal yang besar, dan proses pengembangan yang relatif panjang. Oleh karena itu, percepatan proyek, pembagian risiko antara pemerintah dan pelaku usaha, serta dukungan pembiayaan menjadi faktor kunci agar potensi panas bumi dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kesimpulan

Energi panas bumi kian strategis dalam transisi energi Indonesia menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Dengan potensi yang besar, dukungan kebijakan, serta perkembangan investasi dan inovasi teknologi, panas bumi memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Ke depan, konsistensi kebijakan, kolaborasi lintas sektor, dan penguatan ekosistem industri akan menentukan sejauh mana panas bumi dapat menjadi pilar utama dalam mencapai target transisi energi dan pembangunan rendah karbon.

 

Referensi

Balans.id. (2025, 18 Desember). Panas bumi Indonesia berpotensi besar dorong transisi energi nasional.

CNBC Indonesia. (2025, 18 Desember). PGE perkuat transformasi energi bersih di seluruh wilayah operasi.

Manado Insider Indonesia. (2025, 18 Desember). Panas bumi dinilai berpeluang besar perkuat transisi energi nasional Indonesia.

Konstruksi Media. (2025, 9 Desember). PGEO berpeluang kantongi pendanaan asing Rp10 triliun siap bangun 4 proyek geothermal strategis.

MarketsandMarkets. (2025, 8 Desember). Geothermal energy market size share industry analysis.

IESR. (2025, 1 Desember). Project InnerSpace rilis laporan penting tentang potensi panas bumi Indonesia.

Author

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *