Sustainability Tanpa Dampak: Masih Perlukah Disebut Berkelanjutan?

PT. Mitra Rekayasa Keberlanjutan – Keberlanjutan (sustainability) umumnya dipahami sebagai upaya meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi agar aktivitas manusia dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Namun, muncul pertanyaan filosofis yang semakin relevan: jika suatu aktivitas benar-benar tidak menimbulkan dampak negatif, apakah label “berkelanjutan” masih diperlukan?

Pertanyaan ini penting di tengah menguatnya kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG) dan Sustainable Development Goals (SDGs), di mana klaim “nol dampak” sering dijadikan target aspiratif, meskipun jarang tercapai secara absolut dalam praktik.

Pengertian Keberlanjutan Secara Komprehensif

sustainability tanpa dampak

Sumber: nationalgeographic.grid.id

Konsep keberlanjutan berakar dari Laporan Brundtland (1987) yang mendefinisikannya sebagai “pemenuhan kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya sendiri.” Definisi ini menegaskan bahwa keberlanjutan mencakup tiga pilar utama, yaitu lingkungan (environmental), sosial (social), dan tata kelola (governance), yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Di Indonesia, konsep keberlanjutan telah diadopsi dalam berbagai sektor, seperti industri kelapa sawit dan perikanan. Praktik berkelanjutan di sektor ini bertujuan memastikan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab tanpa eksploitasi berlebihan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.

Meskipun gagasan nol dampak lingkungan terdengar ideal, keberlanjutan pada praktiknya lebih menekankan pada pencapaian netralitas atau net positive impact, misalnya melalui skema kompensasi emisi karbon. Tanpa konteks perbaikan berkelanjutan tersebut, label sustainability berisiko kehilangan nilai edukatif dan transformatifnya.

Realitas Nol Dampak Lingkungan

sustainability tanpa dampak

Sumber: sehat AQUA

Mencapai zero environmental impact secara absolut hampir mustahil, mengingat setiap aktivitas manusia—sekecil apa pun—akan meninggalkan jejak ekologis. Konsep net zero emissions, misalnya, tidak menghapus emisi sepenuhnya, melainkan menyeimbangkannya melalui mekanisme penyerapan atau offset, sebagaimana dijelaskan oleh National Academies (2021).

Di Indonesia, inisiatif seperti zero waste di kota-kota besar masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga perubahan perilaku masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa klaim nol dampak sering kali bersifat normatif dan aspiratif, bukan kondisi nyata yang sepenuhnya tercapai.

Dalam konteks global, kritik terhadap klaim nol dampak juga muncul karena pertumbuhan ekonomi hampir selalu melibatkan trade-off. Oleh karena itu, keberadaan label sustainability menjadi penting untuk membedakan antara upaya yang benar-benar berbasis dampak dan praktik greenwashing, di mana klaim ramah lingkungan tidak disertai bukti atau indikator yang jelas.

Relevansi Label Berkelanjutan

Sumber: Indonesia Re

Label “berkelanjutan” tetap memiliki peran krusial, terutama dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas. Dalam kerangka ESG, label ini berfungsi sebagai alat evaluasi kinerja non-finansial perusahaan. Di Indonesia, sustainability report menjadi instrumen penting untuk memenuhi regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta standar global seperti Global Reporting Initiative (GRI), yang menuntut pelaporan dampak secara terukur.

Bahkan ketika suatu aktivitas berhasil meminimalkan dampak negatif secara signifikan, label keberlanjutan tetap diperlukan untuk mendokumentasikan praktik baik dan memungkinkan replikasi di sektor lain. Contohnya adalah pengembangan sustainable palm oil yang berupaya menekan deforestasi dan meningkatkan ketertelusuran rantai pasok.

Pada dimensi sosial, label sustainability juga berfungsi sebagai sarana komunikasi dan partisipasi publik. Kampanye digital dan gerakan aktivisme, khususnya di kalangan generasi muda, banyak bergantung pada narasi keberlanjutan untuk mendorong perubahan perilaku kolektif. Tanpa label tersebut, capaian positif berisiko luput dari perhatian dan tidak memberikan efek domino yang lebih luas.

Implikasi bagi Indonesia dan Agenda ESG

Sumber: smsperkasa.com

Di Indonesia, keberlanjutan telah terintegrasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) serta komitmen net zero emissions pada 2060. ESG semakin dipandang sebagai alat ukur penting bagi investor dalam menilai risiko dan keberlanjutan jangka panjang suatu entitas.

Baca juga: SDGs sebagai Fondasi Pembangunan Berkelanjutan Menuju 2030

Sejumlah perusahaan, seperti Regal Springs, menerapkan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan rantai pasok untuk menjaga keseimbangan ekologi dan ekonomi, menunjukkan bahwa label sustainability tetap relevan meskipun dampak negatif berhasil ditekan seminimal mungkin.

Kesimpulan

Sustainability tanpa dampak negatif tetap perlu disebut berkelanjutan karena label tersebut berperan penting dalam menjaga momentum inovasi, transparansi, dan partisipasi sosial-ekonomi. Mengingat keterbatasan dalam mencapai nol dampak secara absolut, keberlanjutan seharusnya dipahami sebagai proses perbaikan berkelanjutan menuju sistem yang lebih adil dan ramah lingkungan.

Melalui kolaborasi lintas sektor, penerapan ESG, dan komitmen terhadap SDGs 2030, upaya kolektif—termasuk peran generasi muda Indonesia—dapat memperkuat transisi menuju masa depan yang benar-benar berkelanjutan.

 

Referensi

National Geographic Indonesia. (2025). Sustainability lingkungan: Definisi, fungsi, dan berbagai contohnya.

Detik.com. (2025). Konsep dan definisi sustainable (keberlanjutan).

BINUS Accounting. (2025). Greenwashing vs keberlanjutan: Bagaimana membedakan klaim ramah lingkungan yang asli.

BINUS University. (2024). Sustainability: Konsep dan implikasinya bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Regal Springs Indonesia. (2024). Pengertian sustainability dan manfaatnya untuk dunia.

World Resources Institute. (2023). The what, when, and how of net-zero emissions.

National Academies. (2021). Is it possible to achieve net-zero emissions?

Author

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *